TASKSHARING RULES AND COMMUNICATION

UMUM


Penerapan yang benar terhadap aturan pembagian tugas dan komunikasi menjamin pengoperasian pesawat yang aman dan efektif.


OPERASI NORMAL

UMUM
Tanggung jawab PF:

  • TERBANG (FLY)

  • NAVIGASI (NAVIGATE)

Tanggung jawab PM:

  • MEMANTAU jalur terbang, navigasi, dan sistem pesawat

  • KOMUNIKASI (COMMUNICATE)

Namun, bila diperlukan, awak penerbang dapat mengatur ulang pembagian tugas sesuai kebutuhan.


SUPPLEMENTARY PROCEDURES

Untuk Supplementary Procedures, pembagian tugas yang digunakan adalah:

  • Jika prosedur berkaitan dengan engine start, disarankan membaca seluruh prosedur terlebih dahulu, kemudian:

    • PM membaca langkah-langkah, dan

    • PF mengoperasikan kontrol.

  • Untuk semua Supplementary Procedures lainnya:
    Prosedur diterapkan sesuai prinsip READ & DO, yaitu PM membaca prosedur dan PF atau PM mengoperasikan kontrol, tergantung konteks.


OPERASI ABNORMAL

Tanggung jawab PF:

  • TERBANG (FLY)

  • NAVIGASI (NAVIGATE)

  • KOMUNIKASI (COMMUNICATE) setelah inisiasi:

    • Tindakan ECAM, atau

    • Prosedur QRH.

Tanggung jawab PM:

  • MEMANTAU jalur terbang dan navigasi

  • Melaksanakan tindakan ECAM atau menerapkan prosedur QRH/OEB.

  • Catatan (terjemahan):

    Selama proses manajemen ECAM atau penerapan prosedur QRH/OEB, tugas “COM” (komunikasi) dialihkan kepada PF, karena kemampuan kognitif PM sebagian besar difokuskan untuk memahami dan melaksanakan tindakan ECAM/QRH/OEB.

    Oleh karena itu, kesadaran situasional PM terhadap lingkungan dan navigasi menjadi kurang efektif dibandingkan dengan PF.

 
 

PANEL KONTROL FCU/AFS DAN EFIS

UMUM
FCU (AFS CP dan EFIS CP) serta MCDU harus digunakan sesuai aturan khusus, untuk menjamin:

  • Pengoperasian yang aman (input yang benar)

  • Komunikasi antar-pilot yang efektif (saling memahami maksud masing-masing).


SELEKSI AFS CP

Input AFS CP (pemilihan atau pengaturan target) dilakukan oleh:

  • PF, dengan AP ON, atau oleh PM (atas permintaan PF)

  • PM (atas permintaan PF), dengan AP OFF (kecuali AP/A/THR yang dapat di-engage oleh PF).

Ringkasan:

  • AP / A/THR

    • Disconnect: PF – YA (melalui instinctive disconnect pushbutton)

    • Engage: PF – YA

    • Disconnect: PM – TIDAK

    • Engage: PM – atas permintaan PF

  • FD

    • PF – TIDAK

    • PM – atas permintaan PF

  • AFS CP Knobs (AP OFF)

    • PF – TIDAK

    • PM – atas permintaan PF

  • AFS CP Knobs (AP ON)

    • PF – YA

    • PM – atas permintaan PF


SELEKSI EFIS CP
Apa pun status AP, PF dan PM harus melakukan seleksi EFIS CP di sisi masing-masing (onside).

ENTRI FMS MELALUI MCDU

Di bawah 10 000 ft, entri harus dibatasi hanya pada yang berdampak operasional:

  • PERF APPR

  • DIR TO

  • NAVAIDS

  • Perubahan runway di fase akhir (late change of runway)

  • Activate SEC F-PLN

  • ENABLE ALTN.

Entri yang memakan waktu harus selalu dilakukan:

  • Oleh PM atas permintaan PF, atau

  • Oleh PF setelah penyerahan kendali sementara kepada PM.


CARA MELAKUKAN BRIEFING

TUJUAN BRIEFING OPERASIONAL

Briefing operasional merupakan bagian integral dari proses Threat and Error Management (TEM) pada setiap misi. Briefing harus berfokus pada:

  • Identifikasi ancaman yang memengaruhi operasi yang direncanakan, dan

  • Kesepakatan mengenai mitigasi (pencegahan, pengelolaan) terhadap ancaman tersebut.

Tujuan kedua dari briefing kru adalah mengidentifikasi perbedaan atau penyimpangan signifikan dari operasi “rutin”.

Pada akhir briefing, kru harus memiliki shared mental model mengenai:

  • Operasi yang akan dilakukan,

  • Ancaman yang teridentifikasi,

  • Mitigasi yang disepakati, dan

  • Deviasi dari operasi rutin.

Briefing harus memberikan kerangka monitoring yang diharapkan bagi PM.

Briefing bertujuan menambah kapasitas berpikir dan bertindak, membangun kepercayaan tim, serta meminimalkan startle effect saat menghadapi situasi non-standar, sehingga meningkatkan resilience kru.

Briefing bersifat pelengkap SOP, bukan pengulangan SOP, dan tidak boleh disamakan dengan kegiatan set/cek sistem pesawat untuk fase penerbangan tertentu. Untuk itu, kru harus tetap mengikuti SOP.

TEKNIK BRIEFING

UMUM

Briefing membutuhkan pola pikir out-of-the-box, tidak hanya mencerminkan operasi rutin dan standar. Briefing harus berfokus pada ancaman (threat-focused) serta mengidentifikasi dan memprioritaskan ancaman yang paling mungkin memengaruhi operasi yang direncanakan. Selanjutnya, briefing harus menjabarkan tindakan untuk memitigasi ancaman tersebut.

Sumber briefing berasal dari:

  • Fakta yang diperoleh saat persiapan pra-penerbangan,

  • Operasi pesawat,

  • Serta pengetahuan dan pengalaman seluruh awak kokpit.

Briefing harus bersifat percakapan, interaktif, dan menggunakan pertanyaan terbuka yang melibatkan seluruh awak untuk berbagi pengalaman dan ekspektasi.

Tingkat detail dan durasi briefing dapat bervariasi. Briefing yang lebih panjang dan rinci mungkin diperlukan, disesuaikan dengan pengalaman kru, misalnya pada kondisi:

  • Kru tidak familiar dengan bandara atau prosedur pendekatan,

  • Bandara kompleks (mis. CAT C),

  • Prosedur atau teknik yang jarang dilakukan.

Briefing yang lebih singkat, hanya mencakup poin minimum, dimungkinkan bila:

  • Operasi di bandara yang sangat familiar,

  • Operasi berulang oleh kru yang sama,

  • Tidak ada atau ancaman terbatas.

Briefing yang panjang tidak selalu berarti briefing yang baik.

Peninjauan Memory Items atau Operating Techniques sebaiknya hanya menjadi bagian briefing bila berpotensi diperlukan untuk manajemen ancaman (misalnya windshear dilaporkan di ATIS → review [MEM] Windshear).

Briefing teknik Rejected Takeoff dan/atau Engine Failure After V1 tidak perlu dilakukan secara rutin pada setiap takeoff.


ANCAMAN (THREATS)

Ancaman mencakup:

  • Kejadian atau kesalahan di luar kendali kru,

  • Peningkatan kompleksitas operasional,

  • Situasi yang harus dikelola untuk menjaga margin keselamatan.

Jumlah ancaman tidak terbatas. Penggunaan alat seperti checklist untuk identifikasi ancaman dapat menghambat pola pikir terbuka. Namun, memory aids dapat membantu selama tidak digunakan secara kaku seperti checklist.

Contoh area ancaman (tidak terbatas):

AIRPORT

  • Kepadatan lalu lintas

  • Pekerjaan konstruksi

  • Hotspots

  • Infrastruktur

  • Kondisi runway

ATC

  • Pembatasan yang menantang – Challenging restrictions

  • Bahasa

  • Fraseologi

  • Perubahan clearance jangka pendek

AIRCRAFT

  • MEL/CDL

  • Defect pesawat

  • Prosedur tambahan yang tidak rutin

ENVIRONMENT

  • Visibilitas rendah

  • Pencahayaan approach/runway

  • Kontaminasi runway

WEATHER

  • Windshear

  • Cuaca konvektif

  • Cuaca dingin

  • Presipitasi

  • Laporan cuaca tidak andal

OPERATIONS

  • Tekanan jadwal

  • Delay

  • Kru terlambat

  • Masalah muatan

CREW

  • Kelelahan

  • Pengalaman rendah

  • Complacency

  • Distraksi

  • Training

  • Kru yang tidak standar

TERRAIN

  • Medan tinggi – High terrain

  • Lingkungan tidak familiar

  • Visual approach yang kompleks

JENIS-JENIS BRIEFING OPERASIONAL

UMUM

Briefing operasional berikut harus dilakukan pada setiap penerbangan:

  • DEPARTURE BRIEFING
    Dilakukan saat persiapan kokpit (cockpit preparation).

  • ARRIVAL BRIEFING
    Dilakukan saat persiapan turun (descent preparation).

Sebuah DEBRIEFING sebaiknya dipertimbangkan pada akhir setiap penerbangan, dengan tujuan untuk:

  • Mengevaluasi bagaimana perencanaan serta penanganan ancaman dan kesalahan (expected maupun unexpected) berjalan,

  • Menilai kemungkinan perbaikan pada kesempatan berikutnya dalam skenario serupa.

Apabila terdapat keterbatasan waktu, debriefing harus dilakukan paling lambat di akhir flight duty.
Debriefing merupakan alat yang sangat kuat untuk manajemen keselamatan jangka panjang.


Briefing Operasional Lainnya

  • CRUISE BRIEFING
    Dilakukan saat pesawat mencapai level jelajah, bila kru mengantisipasi ancaman operasional tertentu
    (mis. terrain tinggi di rute, awareness dan avoidance cuaca), atau sebelum memasuki area dengan aturan operasional khusus (mis. North Atlantic).

  • RELIEF CREW BRIEFING
    Dilakukan saat terjadi pergantian kursi awak pada operasi dengan augmented crew.

  • RE-BRIEFING
    Dilakukan bila terdapat:

    • Ancaman baru yang teridentifikasi, atau

    • Perubahan strategi penerbangan yang direncanakan
      (mis. saat Departure Change Checklist diterapkan, terjadi delay besar, atau deviasi signifikan dari flight plan awal).

PERSIAPAN UNTUK BRIEFING

Persiapan setiap briefing dimulai dari persiapan misi penerbangan.
Persiapan ini berlanjut selama proses dispatch dengan pengumpulan data terkait:

  • Kondisi teknis pesawat

  • Perencanaan rute

  • Cuaca

  • NOTAM

  • Perencanaan muatan (load)

  • Persyaratan operasional perusahaan

  • Perencanaan bahan bakar

Persiapan penerbangan dilakukan sebagian secara mandiri oleh PF dan PM, serta sebagian dikerjakan bersama.

Di pesawat, bagian SOP berikut memuat item yang harus didiskusikan dan disepakati oleh kedua pilot:

  • Aircraft acceptance

  • Perhitungan performa awal (preliminary performance calculation)

  • Bagian akhir dari cockpit preparation setelah PF menyelesaikan FMS preparation

Item SOP ini bertujuan membentuk shared mental image antara kedua pilot, sehingga briefing operasional berikutnya menjadi ringkas, efektif, dan fokus pada hal-hal esensial.

Untuk detail lebih lanjut, lihat SOP.


DEPARTURE BRIEFING

Struktur dan item minimum dari departure briefing adalah:

DEPARTURE BRIEFING

Langkah PF / PM

1. Cockpit door closed
– Ciptakan lingkungan tanpa gangguan (1)

PM

2a. Rencana (Plan)

  • Runway lepas landas (T.O RWY / Intersection)

  • SID designator

  • Ketinggian awal yang diizinkan ATC (First cleared altitude)

  • MSA/MORA untuk lintasan pendakian

  • Bahan bakar dan waktu ekstra

  • PF

2b. Rencana (Plan)

  • Hotspot rute taxi yang direncanakan

  • Stop margin untuk RTO (Rejected Take Off)

  • EOSID (Engine Out SID)

  • Pertimbangan return/diversion

  • Operasi khusus

  • Operasi non-standar

  • PM

3a. Ancaman yang Diidentifikasi (Identified Threats)

PF

3b. Ancaman yang Diidentifikasi (Identified Threats)

PF/PM

4. Mitigasi (Mitigations)

5. Lain-lain (Miscellaneous)

(1) Agar briefing berkualitas baik, penting untuk meminimalkan interupsi.
Pintu kokpit harus ditutup.
Tugas Commander (CM1) adalah mengantisipasi potensi gangguan dan mengelola tahap ini.
Jika terjadi interupsi, briefing harus dilanjutkan kembali dari awal langkah yang terganggu.

(2) PM harus memulai dengan membahas poin-poin utama dari PLAN.
Hal ini memastikan kedua pilot memiliki gambaran mental yang sama mengenai lintasan penerbangan setelah persiapan FMS (oleh PF) dan pengecekan (oleh PM) sesuai SOP.
Selanjutnya, PF membahas hotspot rute taxi (jika ada) dan setidaknya mempertimbangkan:

  • Pertimbangan RTO (jarak henti jika tersedia)

  • EOSID / lintasan saat engine-out

  • Pertimbangan untuk return landing atau diversion bila diperlukan (cuaca / berat pesawat)

PF juga mengingatkan setiap Special Operation atau Supplementary Procedure yang akan diterapkan.

Briefing PLAN pada umumnya cukup bersifat garis besar, dan bukan pengulangan detail pengaturan serta pengecekan lintasan di FMS yang telah dilakukan dalam SOP.

(3) PM membahas THREATS yang telah diidentifikasi selama persiapan misi.
PF menambahkan ancaman lain bila diperlukan.

(4) PF dan PM mendiskusikan serta menyepakati MITIGATION dari ancaman-ancaman tersebut.

(5) MISCELLANEOUS digunakan untuk membahas hal tambahan, misalnya:

  • Rencana penggunaan automasi setelah takeoff

  • Supplementary Procedures (jika belum dibahas)

  • Safety briefing dan tugas observer

  • Dangerous goods di dalam pesawat

ARRIVAL BRIEFING

Struktur dan item minimum Arrival Briefing:

PF/PM

Langkah

1. Menyiapkan lingkungan tanpa gangguan (1)

PM

2a. PLAN

  • Arrival/transition designator

  • MORA/MOCA/MSA untuk lintasan yang direncanakan

  • STAR

  • Runway dan jenis pendekatan

  • Minimum pendekatan

  • Lintasan go-around

  • Extra fuel dan waktu

  • PF

2b. PLAN

  • Guidance untuk approach

  • Konfigurasi flap landing

  • Stop margin

  • Penggunaan reverse thrust

  • Penggunaan autobrake

  • Rencana runway exit

  • Hotspots untuk taxi-in

  • Special operation

  • Non-standard operation

  • PF/PM

3. THREATS yang teridentifikasi

4. MITIGATION

5. MISCELLANEOUS


(1)
Agar briefing berkualitas baik, penting untuk meminimalkan interupsi.
Pengaturan waktu yang tepat sebelum Top of Descent membantu mengurangi potensi gangguan.
Tugas Commander (CM1) adalah mengantisipasi potensi gangguan dan mengelola tahap ini.
Jika terjadi interupsi, briefing harus dilanjutkan kembali dari awal langkah yang terganggu.

(2)
PM memulai dengan membahas poin utama dari PLAN, untuk memastikan kedua pilot memiliki gambaran mental yang sama mengenai lintasan penerbangan setelah persiapan FMS (oleh PF) dan pengecekan (oleh PM) sesuai SOP.
PF kemudian membahas hal-hal yang dipertimbangkan untuk pendaratan.

Briefing PLAN umumnya bersifat garis besar, dan bukan pengulangan detail pengaturan serta pengecekan lintasan di FMS sesuai SOP.

(3)
PM membahas THREATS yang telah diidentifikasi, dan PF menambahkan bila perlu.

(4)
PF dan PM mendiskusikan serta menyepakati MITIGATION dari ancaman-ancaman tersebut.

(5)
MISCELLANEOUS dimaksudkan untuk membahas hal tambahan, misalnya:

  • Special Operations

  • Supplementary Procedures (jika belum dibahas)