Autopilot dapat digunakan dengan batas minimum berikut:
Saat takeoff:
100 ft AGL dan minimal 5 detik setelah liftoff
Saat approach:
Dengan mode F-G/S: 200 ft AGL
Dengan mode FINAL APP, V/S atau FPA: 250 ft AGL
Circling approach:
500 ft AGL untuk kategori pesawat C
600 ft AGL untuk kategori pesawat D
ILS / MLS / GLS / LPV:
ILS/MLS – CAT I (FMA menampilkan CAT1): 160 ft AGL
ILS/MLS – CAT II / CAT III SINGLE / CAT III DUAL: 0 ft AGL (autoland)
GLS – CAT I: 160 ft AGL
GLS – AUTO LAND: 0 ft AGL (autoland)
LPV (dengan SLS) – APPR1: 160 ft AGL
PAR (Precision Approach Radar):
Autopilot/Flight Director diizinkan dengan mode HDG V/S atau TRK FPA
Dapat memerlukan approval operasional
Minimum: 250 ft AGL
Setelah manual go-around:
100 ft AGL
Semua fase lainnya:
500 ft AGL
Catatan tambahan:
AP atau FD pada mode OP DES atau DES dapat digunakan saat approach, namun hanya diperbolehkan jika altitude yang dipilih di FCU diset sama atau lebih tinggi dari yang lebih besar antara MDA/MDH atau 500 ft AGL.
Pesawat mampu melaksanakan operasi RNP AR apabila dioperasikan sesuai dengan rekomendasi yang tercantum dalam Airbus Airworthiness Compliance Document (ACD).
Tingkat RNP AR yang dapat dicapai bisa lebih kecil dari 0,3 NM dan bergantung pada jenis aplikasi RNP AR.
Untuk nilai RNP maksimum yang dapat dicapai, lihat ACD.
Kapabilitas RNP AR telah dibuktikan dengan Autopilot ON pada mode berikut:
Departure dalam mode NAV
Initial dan Intermediate approach dalam mode NAV atau APP NAV
Final approach dalam mode FINAL APP
Missed approach dalam mode NAV
Catatan:
Untuk performa navigasi dan rekomendasi operasi RNP AR dengan AP OFF / FD ON, silakan merujuk ke ACD.
Apabila “GPS PRIMARY LOST” ditampilkan pada ND dan MCDU, akurasi navigasi masih mencukupi untuk operasi RNP, dengan syarat:
Nilai RNP telah dicek atau dimasukkan pada MCDU, dan
HIGH ACCURACY ditampilkan.
Mode NAV boleh digunakan setelah takeoff dengan ketentuan:
GPS PRIMARY tersedia, atau
Kru telah memeriksa FMGS takeoff updating.
Mode NAV boleh digunakan di terminal area dengan ketentuan:
GPS PRIMARY tersedia, atau
RNP yang sesuai telah dicek atau dimasukkan di MCDU dan HIGH accuracy ditampilkan, atau
Navigasi FMS dicrosscheck dengan raw data navaid.
Pendekatan berbasis navaid dapat dilakukan dalam NAV, APP NAV, atau FINAL APP, dengan AP atau FD aktif, dengan ketentuan:
Jika GPS PRIMARY tersedia, navaid referensi boleh tidak serviceable atau peralatan radio pesawat boleh inoperative/tidak terpasang, dengan approval operasional.
Jika GPS PRIMARY tidak tersedia, maka navaid referensi dan peralatan radio terkait harus serviceable, dituning, dan dimonitor selama approach.
Catatan:
FLS adalah mode guidance lateral dan vertikal terkelola (managed) yang direkomendasikan untuk approach berbasis radio navaid.
RNAV (RNP) dapat dilakukan tanpa GPS PRIMARY hanya jika cakupan radio navaid mendukung nilai RNP dan HIGH accuracy ditampilkan pada MCDU dengan RNP yang ditentukan, serta telah diperoleh approval operasional.
RNAV (GNSS) dapat dilakukan jika GPS PRIMARY tersedia.
Lihat Guidance Modes per Approach Types.
Catatan:
FLS adalah mode guidance lateral dan vertikal terkelola yang direkomendasikan untuk RNAV approach.
Pendekatan berbasis navaid (misal VOR/DME) dapat diterbangkan dengan FLS dengan ketentuan:
F-APP capability ditampilkan pada FMA.
Dalam hal ini, navaid referensi boleh tidak serviceable, atau peralatan radio pesawat boleh inoperative/tidak terpasang, dengan approval operasional.
F-APP + RAW capability ditampilkan pada FMA.
Dalam hal ini, navaid referensi dan peralatan radio terkait harus serviceable, dituning, dan dimonitor selama approach.
Pendekatan ILS (G/S out), ILS B/C (G/S out), LOC, LOC B/C dapat diterbangkan dengan:
Mode lateral LOC (LOC B/C) dan
Mode F-G/S dari fungsi FLS, dengan ketentuan:
F-APP capability ditampilkan pada FMA.
Navaid referensi untuk validasi jalur vertikal harus dituning dan dicek di final descent point.
F-APP + RAW capability ditampilkan pada FMA.
Navaid referensi untuk validasi jalur vertikal harus dituning, dicek di final descent point, dan dimonitor selama approach.
RNAV(GNSS) dengan LNAV minima dapat diterbangkan dengan FLS jika F-APP capability tampil di FMA.
RNAV(GNSS) dengan LNAV/VNAV minima harus diterbangkan dengan FLS jika F-APP capability tampil di FMA.
Catatan:
Batasan dan prosedur RNAV(GNSS) tetap harus digunakan untuk melakukan RNAV approach yang tidak mewajibkan GNSS.
Jika satu engine inoperative, maka tidak diperbolehkan menggunakan autopilot untuk melakukan NPA pada mode berikut:
FINAL APP
NAV V/S
NAV/FPA
Hanya penggunaan Flight Director (FD) yang diperbolehkan.
RNAV(GNSS) & APPROACH BERBASIS VOR/NDB
Untuk menerbangkan approach dalam:
Lateral Managed Mode, atau
Lateral + Vertical Managed Mode
maka prosedur yang tersimpan di Navigation Database harus:
Diproduksi oleh approved supplier sesuai ED76/DO200A atau DAT Type 2, atau
Divalidasi dan disetujui oleh Operator.
Catatan:
Lintasan lateral RNAV(GNSS) berbasis geometri koordinat waypoint.
Validasi koordinat waypoint memastikan tidak ada kesalahan coding dan lintasan lateral benar.
Perbedaan derajat track lateral antara tampilan MCDU F-PLN dan chart dapat disebabkan oleh perbedaan MagVar FMS vs chart, dan tidak mempengaruhi lintasan lateral.
Untuk menerbangkan prosedur RNAV(RNP) (departure, approach, missed approach), prosedur dalam Navigation Database harus:
Diproduksi oleh approved supplier sesuai ED76/DO200A atau DAT Type 2, dan
Divalidasi serta disetujui oleh Operator.
Decision Height minimum : 100 ft
Minimal 1 autopilot harus engaged pada mode APPR, dan di FMA harus tampil:
CAT 2 atau CAT 3 SINGLE atau CAT 3 DUAL.
Untuk manual landing, AP harus dilepas paling lambat pada 80 ft AGL.
Decision Height minimum : 100 ft
Minimal 1 autopilot engaged pada APPR, dan FMA menampilkan:
CAT 2 / CAT 3 SINGLE / CAT 3 DUAL.
Dengan HUD :
Flight crew wajib menggunakan HUD untuk memonitor approach dan melakukan:
Automatic landing, atau
Manual landing.
Jika hanya automatic approach tanpa autoland, AP harus dilepas ≤ 80 ft AGL.
Tanpa HUD :
Wajib melakukan automatic landing.
Decision Height minimum : 100 ft
Minimal 1 autopilot engaged pada APPR, dan FMA menampilkan:
CAT 2 / CAT 3 SINGLE / CAT 3 DUAL.
Dengan HUD : ketentuan sama seperti SA CAT II
Tanpa HUD : wajib automatic landing.
Decision Height minimum : 50 ft
A/THR wajib digunakan (selected atau managed speed).
Minimal 1 autopilot engaged pada APPR, dan FMA harus menampilkan:
CAT 3 SINGLE atau CAT 3 DUAL.
Alert Height : 100 ft
A/THR wajib digunakan (selected atau managed speed).
Kedua autopilot harus engaged pada mode APPR, dan FMA harus menampilkan:
CAT 3 DUAL.
Decision Height minimum : 22 ft
Minimum RVR : 75 m
Ketentuan:
CAT II dan CAT III Fail Passive autoland hanya diizinkan pada konfigurasi FULL,
dan hanya jika seluruh prosedur engine-out telah selesai sebelum mencapai 1.000 ft pada fase approach.
Artinya: bila terjadi engine failure, autoland CAT II/III masih boleh, tapi harus sudah stabil (FULL config + checklist EO complete) sebelum 1.000 ft AGL.
Batas Angin Maksimum:
Headwind (Angin dari depan) : 30 kt
Tailwind (Angin dari belakang) : 10 kt
Crosswind (Angin samping) :
20 kt tanpa Automatic Rollout
15 kt dengan Automatic Rollout
Catatan:
Batas angin didasarkan pada wind surface yang dilaporkan ATC.
Jika wind yang tampil di ND melebihi batas autoland di atas, tetapi tower melaporkan wind surface masih dalam batas, autopilot boleh tetap engaged.
Jika tower melaporkan wind surface melebihi batas, maka hanya pendekatan otomatis CAT I tanpa autoland yang dapat dilakukan.